Arab dan Islam

Oleh Sahlul Fuad

Ternyata, ada beberapa orang kalau mendengar kata Arab, gambaran yang melayang-layang di pikirannya antara lain, lelakinya berpakaian jubah putih, berjenggot panjang, dan perempuannya memakai jilbab, bahkan bercadar, serta bentuk hidungnya mancung. Itu gambaran fisik yang muncul. Selain itu, kalau disebut kata Arab, kesan yang hinggap di angan-angan orang tersebut adalah beragama Islam dan taat, pandai mengaji al-Qur’an, dan keturunan Nabi.

Suatu saat, ada orang yang heran terkaget-kaget melihat orang, sebagaimana ciri-ciri fisik orang Arab di atas, masuk lift sebuah hotel bersama seorang perempuan berpakaian you can see, bercelana jeans ketat, menenteng tas kulit berwarna coklat. Padahal, bisa saja orang itu kebetulan masuk lift yang sama. “Bukan itu masalahnya, bos. Saya kenal siapa perempuan yang masuk dengan orang itu. Apalagi, waktu itu, si perempuan itu memberi kode mata kepada saya, kalau dia di-booking orang Arab itu,” aku orang itu.

Mendengar ungkapan teman tadi, saya juga jadi heran kepada dia. Kenapa dia jadi heran menemukan fakta sosial seperti itu. Akhirnya, saya tahu masalahnya. Rupanya, hubungan antara orang Arab dengan Islam hampir pasti tidak bisa dipisahkan. Fakta ini, bisa juga dilihat dengan fakta lain. Misalnya, kalau ada seseorang mempunyai nama yang berbahasa Arab, banyak orang mengira, orang itu beragama Islam. Sama halnya ada orang yang ingin disebut ”Islam” atau ”islami”, orang tersebut memilih menggunakan istilah dari bahasa Arab.

”Mas, jangan pakai nama ’Yayasan Pendidikan Masyarakat’-lah. Pakai nama ’Yayasan Tarbiyatul Ummah’ atau apalah yang lebih islami begitu. Kita ini ’kan ingin menyiarkan Islam. Masa, pakai nama yang tidak Islam,” begitulah kira-kira salah satu ungkapan yang pernah muncul. Atau, kalau ada orang Islam, yang mengerti bahasa Arab, berbahagia karena dikaruniai anak, kira-kira pilihan nama yang dijajarkan antara lain, Musthafa Kamil daripada Jaka Sampurna, Nurul Badriyah daripada Cahya Purnama. Karena, yang tidak berbahasa arab dianggap tidak Islam. Padahal, artinya sama, maksudnya sama, dan kandungan maknanya sama.

”Bos, saya tidak setuju kalau anda membandingkan makna dari bahasa Indonesia dengan bahasa Arab. Jelas-jelas beda jauh. Kedalaman makna yang terkandung dalam bahasa Arab itu luar biasa filosofisnya. Jangan asal disamakan saja. Terbukti, Allah SWT memilih bahasa Arab untuk mengemas wahyu-wahyu-Nya. Karena apa? Karena bahasa Arab itu luar biasa, bos,” sanggah seorang teman di samping saya dan mengambil posisi menghadap saya.

Sambil menyalakan rokok, saya menyimak ucapan tersebut. Dan sambil mengingat-ingat ayat al-Qur’an yang pernah ada, saya memahami sanggahan teman saya tersebut. Memang, ada terjemahan bait ayat al-Qur’an yang menyatakan adanya penggunaan bahasa Arab. Di antara bunyi terjemahan tersebut adalah, ”Sesungguhnya Kami menjadikan Al Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami (nya).” Ada juga terjemahan yang berbunyi, ”Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui.” Namun, ada juga terjemahan ayat al-Qur’an yang berbunyi, ”Dan tidaklah kami mengutus seorang Rasulpun melainkan dengan bahasa kaumnya, agar ia memberi penjelasan kepada mereka.”

Setidaknya, dengan mengingat ketiga ayat itu, saya jadi tidak paham dengan sanggahan teman saya tadi. Apa hubungan antara bahasa Arab dengan Islam atau islami tersebut? Apalagi urusan nama. Lagi pula, urusan filosofi suatu bahasa itu urusan budaya masing-masing. Misalnya, kalau kata sandal dikandungi makna filosofis yang ”dalam” juga bisa. Di sini, kita harus belajar kepada para sastrawan, khususnya penyair. Kata sandal bisa dimaknai sebagai alas kehidupan, bukan sekadar kaki seseorang. Atau kata celana dalam sajak Joko Pinurbo yang berjudul Puasa.

Puasa

(kepada penyair Haspahani)

Saya sedang mencuci celana yang pernah
saya pakai untuk mencekik leher saya sendiri.
Saya sedang mencuci kata-kata
dengan airmata yang saya tabung setiap hari.
Dari kamar mandi yang jauh dan sunyi
saya ucapkan selamat menunaikan ibadah puisi.

(2007)

Jelas, kata celana ini mempunyai makna dan filosofis yang berbeda dalam bahasa sehari-hari kita. Karena, tidak mungkin kita memaknakan kata ’celana’ dalam konteks ’puasa’ ini dikaitkan dengan celana yang kita pakai sehari-hari. Artinya, urusan bahasa adalah urusan kebudayaan yang dikembangkan oleh pemilik budaya itu sendiri. Dan tentu saja, masing-masing kelompok budaya tersebut mempunyai ukuran yang berbeda satu sama lain, sehingga satu sama lain tidak bisa men-judge suatu budaya kelompok lain itu baik atau buruk. Karena penilaian tersebut tidak lain karena melihat dari kacamata yang berbeda.

Ya, saya pun mengerti ada hadits Nabi Muhammad yang menyatakan, “Sesungguhnya kamu sekalian akan diseru/dipanggil pada hari Kiamat dengan nama-nama kamu dan nama-nama bapak kamu. Oleh demikian, elokkanlah nama-nama yang kamu berikan”. (Riwayat Imam Abu Daud dari Abu Dardak r.a.), ada juga hadits yang berbunyi, “Sesungguhnya sehina-hina/seburuk-buruk nama di sisi Allah ialah seorang lelaki yang bernama Rajanya Para Raja (Malik al-Amlak)”. (Riwayat Imam Bukhari dari Abu Hurairah r.a.). Dalam riwayat yang lain, baginda bersabda; “Lelaki yang paling dimukai oleh Allah pada hari kiamat dan paling hina ialah lelaki yang diberi nama Malikul-Amlak (karena hakikatnya) tiada raja melainkan Allah”. (Riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah r.a.).

Mari, kita perhatikan terjemahan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah di atas, adakah kaitan antara nama berbahasa Arab dengan Islam? Karena Arab bukan Islam dan Islam bukan Arab. Islam adalah ajaran, Arab adalah identitas budaya. Maka, jangan heran, ada orang Arab, atau ada nama orang atau sesuatu yang berbahasa Arab, tetapi tidak sesuai dengan ajaran Islam. Karena Arab dan Islam memang beda.

”Bos, ini bahaya. Bos sudah memisahkan Arab dengan Islam. Ini jelas-jelas menyesatkan. Bos bisa dianggap keluar dari Islam, bos bisa masuk neraka!!! Istighfar, bos!”

Sambil menyalakan rokok kembali yang telah habis dan manggut-manggut merenungkan peringatan teman saya, saya hanya berpikir, apakah teman saya ini sudah langsung kontak kepada Allah SWT? Setahu saya, yang tahu keimanan seseorang, yang tahu seseorang akan di tempatkan di sorga atau neraka, dan seandainya saya salah atau benar dalam hal ini hanyalah Allah SWT yang tahu. Subhanallah, astaghfirullah, ya Allah, kalau pun saya salah mungkin hanya itu pengetahuan dan pemahaman saya tentang Islam. Untuk itu, berilah tambahan pengetahuan dan pemahaman yang Engkau ridlai, ya Allah. Kalau memang pendapat saya benar, berikanlah pemahaman kepada yang belum paham, agar kami bisa menjalankan ajaran yang Engkau inginkan. Karena, ajaran-Mu memang tak pernah berubah, yang berubah adalah pemahaman kami.

~ oleh Birahi Islam di/pada Januari 23, 2008.

6 Tanggapan to “Arab dan Islam”

  1. Sebetulnya itulah tugas umat muslim Indonesia (yg nota bene jumlah muslimnya terbesar sedunia), membuat citra Islam tidak identik dengan dunia Arab. Tapi apa daya, ternyata kita malah terpuruk dengan kelemahan kita sendiri.
    Bahasa Alqur’an memang bahasa Arab, dan semestinya memang tetap dijaga keasliannya. Belajar bahasa arab untuk mempelajari Alqur’an dan sejarah Islam memang perlu. Tapi memakai panggilan Ana, Antum, Akhwan. Ikhwat dsb dalam percakapan bahasa Indonesia untuk kemudian merasa berislam yg baik saya rasa berlebihan. Apa yg salah dengan saya, anda, laki-laki dan perempuan? Saya pikir ini jadinya spt memakai kata2 dlm bhs Inggris dlm percakapan kita saat ini. Sama2 merasa hebat kalo sudah berhasil melakukannya….
    Maaf Pak, ini hanya pemikiran kecil saya….
    Salam

  2. saya sepakat dg mas bsw. arab tidak identik dengan islam meskipun banyak ikon islam yang lahir dari sana. arab, dalam pandangan awam saya, itu berkaitan dengan masalah kulturalnya, sedangkan islam itu ajaran. saya juga jadi heran, kenapa kita mesti pakek nama2 sapaan yang berbau arab sekadar untuk memberikan citra bahwa kita seorang muslim. *halah*

  3. Hmmm, cerita mengenai “Arab”… :)
    Dulunya saya mengira bahwa Arab itu identik dengan ajaran Islam, tapi sekarang malah sebaliknya. Arab itu sama juga seperti bangsa2 lainnya tidak bisa disamakan dengan suatu ajaran Islam. Dalam hal ini saya setuju dengan Pak Sawali.

    Tetapi mengenai kenapa banyak dipakai nama2 Arab, menurut saya pada umumnya lingkungan kita sudah mulai mengerti bahwa nama itu penting, karena Islam merupakan agama yang sempurna. Maka, nama menjadi salah satu perhatian utama sebagai identiti pengenalan umat Islam. Rasulullah bersabda,

    “Di antara kewajipan seorang ayah kepada anaknya ada tiga. Iaitu menamakan mereka dengan nama yang baik, mengajarnya apabila berakal, dan mengahwinkan si anak apabila mereka ingin berkahwin.” (Al-Hadith)
    http://namaislam.tripod.com/

  4. ”Bos, ini bahaya. Bos sudah memisahkan Arab dengan Islam. Ini jelas-jelas menyesatkan. Bos bisa dianggap keluar dari Islam, bos bisa masuk neraka!!! Istighfar, bos!”

    menurut saya ucapan diatas terlalu berlebihan. saya tidak tahu apakah ucapan itu orisinil, atau hanya rekaan penulis. tidak ada aturan dalam Islam yg mewajibkan pengikutnya utk mengikuti seluruh tradisi bangsa Arab, termasuk nama. yg seharusnya diadopsi adalah tradisi2 yg islami. entah itu asalnya dari bangsa manapun, asalkan sesuai dengan kaidah2 keIslaman, maka ok2 saja.

    sebagai muslim, fanatik terhadap arab itu tidak perlu, sebagaimana juga tidak perlunya sikap anti-arab, yg sekarang ini mulai beredar di beberapa kalangan.

  5. mbah Lul, sampeyan kalau sudah jadi bikin pondok pesantren utk semua penganut agama apapun, saya mau dong jadi santrimu! hehehe…. rahayu! rahayu! rahayu!

  6. Arabisasi islam atau islamisasi arab?

Tinggalkan Balasan